Jumat, 24 Januari 2014

TUGAS INTERNET

Penyebab Banjir Jakarta, dari Teknis hingga Ideologis

Prof Dr Ing Fahmi Amhar, profesor riset Badan Informasi Geospasial (BIG), menyatakan banjir Jakarta hanya bisa diselesaikan dengan ditegakkannya Khilafah, bila penyebabnya adalah masalah ideologis.
“Kalau benar masalahnya ideologis, maka benar bahwa usaha tuntas mengatasi banjir itu adalah mengganti ideologi itu dengan Islam. Dan sebuah negara yang ideologinya Islam, disebut Khilafah,” tegasnya kepada mediaumat.com, Selasa (21/1) melalui surat elektronik.
Karena, menurutnya, kalau banjir itu cuma insidental, maka itu persoalan teknis belaka.
Tetapi kalau banjir itu selalu terjadi, berulang, dan makin lama makin parah, maka itu pasti persoalan sistemik.
“Kalau banjir sistemik itu dapat selesai dengan bendungan baru, pompa baru, kanal baru dan lain-lain, maka itu sistem teknis,” ungkapnya.
Namun kalau itu menyangkut tata ruang yang tidak dipatuhi, kemiskinan yang mendorong orang menempati sempadan sungai, keserakahan yang membuat daerah hulu digunduli, sistem anggaran yang tidak adaptable untuk atasi bencana, pejabat yang tidak kompeten dan abai mengawasi semua infrastruktur, dan lain sebagainya, Fahmi menegaskan, maka itu sudah terkait dengan sistem non teknis.
“Sistem non teknis kalau saling terkait dan berhulu pada pemikiran mendasar bahwa semua ini agar diserahkan kepada mekanisme pasar dan proses demokratis, maka persoalannya sudah ideologis,” simpulnya.
Ia juga menjelaskan, mekanisme pasar berarti membiarkan semuanya pada hukum permintaan dan penawaran. Misalnya, kepemilikan tanah sepenuhnya tergantung pasar. Akibatnya, banyak orang yang tadinya punya empang, akhirnya empangnya dijual karena perlu uang. Dan oleh pembelinya, empangnya dikeringkan karena lebih menguntungkan untuk bikin real estate.
Sedangkan demokratis, lanjut Fahmi, artinya, semua peraturan diserahkan pada “kehendak rakyat”, yang seringnya rakyat hanya legitimasi saja, karena opini sudah dibentuk, dan wakil-wakil rakyat lebih mewakili kepentingannya sendiri.
“Proses demokratis juga membuat para politisi hanya berpikir 5 tahun ke depan. Masih mending kalau itu buat memikirkan rakyat dalam pembangunan yang berkelanjutan, kadang hanya memikirkan bagaimana agar balik modal, dan bagaimana nanti bisa terpilih lagi,” pungkasnya. (mediaumat.com, 21/1/2014)

TUGAS INTERNET

Programmer Entrepreneur

Author: · Published: May 31, 2012 · Category: Video on Demand
Romi Satria Wahono
Video wawancara Romi Satria Wahono dengan tema programmer-entrepeneur. Rekaman diambil setelah selesai ngisi acara 3rd PHP Developers Day di LIPI 19 Pebruari 2009. Materi lengkap tentang programmer entrepreneur  tersedia dengan blog RomiSatriaWahono.Net dengan judul 5 Langkah Menjadi Programmer Entrepreneur.
 VIDEONYA ADA DI LINK DI BAWAH INI,KLIK LINK DI BAWAH:
http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=ePmypMqYhuQ

TUGAS INTERNET

Kondom Bekas Bertebaran di Taman Kota

Vandalisme-di-Taman-Sekartaji.jpg (448×266)SOLO — Taman kota di Solo bukan hanya tampak tak terurus dan dianggap mubazir. Warga yang ditemui Solopos.com juga memberikan kesaksian bahwa taman kota yang tampak lengang pada siang hari justru bisa padat aktivitas pada malam hari.

Warga yang beraktivitas di sebagian taman kota itu umumnya berusia belia. Bahkan ada yang berusia pelajar SMP. Pada pagi harinya, kata warga setempat, bisa ditemukan sisa aktivitas itu. Misalnya, kondom bekas pakai yang bertebaran di sana-sini.

Solopos.com, sejak Sabtu (28/12/2013) siang, mengamati situasi Jl. Tentara Pelajar, Jebres, Solo kala lalu lintas kendaraan di lokasi itu masih cukup ramai. Tak banyak pelajar yang antre menunggu bus di perempatan Kandangsapi.

Hanya ada beberapa orang yang terlihat duduk-duduk sembari menunggu bus dan menikmati mi ayam di tepian jalan, tepatnya di sekitar Taman Sekartaji. Kendati terik matahari menyengat, padahal suasana di taman itu cukup teduh dengan banyaknya rerimbunan pohon.

Tampak banyak coretan hasil aksi vandalisme di sekitar bangunan prasasti Taman Sekartaji itu. Jalan setapak yang terbuat dari paving block kurang jelas terlihat. Daun-daun kering dan plastik pembungkus makanan menutupi pedestrian itu. Tiang lampu bercat tembaga masih banyak, namun kaca lampu pecah semua dan lampunya hilang. Ada pula tiang lampu yang terpotong.

Kumuh, tak terurus, demikian kesan yang tercipta di taman Sekartaji buatan pemerintah kota (pemkot) beberapa tahun lalu. “Kalau siang tak terlihat geliat aktivitas di taman itu. Tapi, mulai pukul 19.00 WIB, ada beberapa remaja yang nongkrong di taman itu. Semakin malam, semakin ramai, terutama pukul 21.00 WIB, sudah enggak karuan. Kalau sekadar ambung-ambungan itu biasa. Saya melihat aktivitas itu jadi malu sendiri,” ujar Tinah, 42, seorang ibu beranak dua yang sering lewat di Jl. Tentara Pelajar itu.

Mereka bukan hanya remaja dewasa yang cukup umur. Tinah, yang tinggal di Kampung Gulon, Kelurahan Jebres, itu sering menjumpai remaja berusia pelajar SMP juga ikut nongkrong di taman pinggir Kali Pepe itu. “Mereka tidak mungkin hanya mengobrol. Bisa jadi, kondom atau alat kontrasepsi ditemukan di sekitar taman itu. Taman itu memang dijarke [dibiarkan] tidak diurusi. Pergaulan remaja sekarang sudah kebablasan, terutama dari pengaruh Internet. Kalau mau lihat lagi di sekitar Jembatan Mojo, Gulon. Kalau malam, mereka seperti tidak tahu malu,” tambahnya saat ditemui Solopos.com di Taman Sekartaji baru yang terletak dekat Pedaringan, Sabtu siang.

Kondisi taman yang memprihatinkan itu tak mendapat perhatian Pemkot Solo. Pemkot justru membangun taman Sekartaji baru yang masih berada di Jl. Tentara Pelajar, sekitar 200 meter dari taman Sekartaji lama, pada 2013. Nilai anggarannya enggak tanggung-tanggung, yakni Rp1,4 miliar. Proyek itu dikerjakan mulai 12 Agustus dan selesai 9 Desember lalu. Secara fisik, taman Sekartaji baru lebih luas dibandingkan taman Sekartaji lama dan fasilitasnya cukup lengkap. Ada dua gazebo lengkap dengan permainan anak di taman itu.
[solopos/www.globalmuslim.web.id